Feb
Diagram Venn Cinta
Written by Istrinya Aldo on February 19th, 2008
“Namanya siapa ?”
“Laili”
“Kelas berapa ?”
“Empat”
“Ikut menggambar apa mewarnai ?”
“Menggambar”
“Gambarnya mana ?”
“Ini”
“Namanya ?”
“Udah ada di belakang”
Saya tersenyum dan dia pun membalas senyum saya, sambil berkata malu-malu “Makasih ya, Mbak”.
Laili, gadis kecil hitam manis, diikat rambutnya di belakang dan dikepang. Sekitar sepuluh menit yang lalu saya lihat dia selesai menangis bersamaan dengan saat dia menyelesaikan gambarnya. Dua puluh menit yang lalu tanpa sengaja mata saya melihat wajah polosnya penuh rasa kepanikan. Di dekatnya ada seorang wanita, mungkin ibunya, tampak sedang mengatakan sesuatu yang tidak bisa saya dengar karena jarak saya cukup jauh dari tempat mereka berada. Setiap kali ibunya selesai mengatakan sesuatu, wajah Laili semakin panik, alisnya berkerut dan tampak semakin ingin menangis. Gambarnya dia selesaikan dengan gerakan tergesa-gesa bercampur marah. Saya menebak, mungkin dia ingin ibunya itu berhenti berbicara dan membiarkan dia menyelesaikan gambarnya sendiri.
“Lima belas menit lagi ya adik-adik !!!”, terdengar suara pembawa acara lomba lukis anak-anak mengumumkan sisa waktu perlombaan. “Jangan lupa tulis namanya di belakang. Yang jelas ya !”. Semakin paniklah Laili. Entah kenapa saya tertarik untuk terus memperhatikan dia dan ibunya di dua puluh menit terakhir menjelang akhir perlombaan. Seluruh gerakan dan ekspresi Laili terekam dalam otak saya saat itu juga. Gerakan tergesa-gesa, diselingi ungkapan kecemasan “Aduuuh …”, gerakan menghapus air mata karena dia sudah sangat panik. Mungkin tertekan oleh keadaan. Ibunya yang terus berkata-kata kepadanya dan pembawa acara lomba yang terus mengingatkan sisa waktu setiap lima menit sekali.
Saat itu yang bisa saya rasakan dari Laili dan ibunya adalah udara kecemasan. Saya pikir, mungkin Laili ingin menyelesaikan gambarnya dengan tenang dan dengan idenya sendiri. Dia tidak ingin orang lain mengganggunya dengan perintah-perintah, walaupun saya pikir lagi, ibunya pun tidak sedang berniat mengganggunya. Bisa jadi ibunya pun ikut cemas karena harapan agar Laili bisa menang cukup besar. Adegan seperti ini sering kali terjadi, baik dalam skala kecil maupun besar, untuk persoalan penting maupun sepele. Setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Walaupun terkadang, tanpa disadari oleh mereka, hal tersebut tidak lebih dari pelampiasan keinginan-keinginan yang tidak tercapai. Dan si anak pun merasa yang paling tahu apa-apa yang terbaik untuk dirinya. Meskipun terkadang melebihi batas juga, karena bagaimanapun komunikasi dengan orang tua seharusnya tetap ada.
Inilah yang harus ditinjau ulang oleh para orang tua dan anak. Bahwa yang menjadi prioritas bukanlah keinginan sendiri saja. Tapi bagaimana keinginan sendiri itu bisa disinergikan dengan keinginan orang lain. Meskipun tetap pada wilayah masing-masing, antara orang tua dan anak tetap ada wilayah irisan kepentingan, selain wilayah komplemennya. Bagaimanapun, orang tua bukanlah anak dan anak bukanlah orang tua. Zaman yang dilalui pun sudah jauh berbeda. Bisa jadi parameter tertentu tidak lagi berlaku sepuluh tahun kemudian.
Hubungan antara orang tua dan anak bukan sekedar hubungan garis keturunan, genetis, ataupun sebab akibat reproduksi makhluk hidup. Gambaran sederhananya adalah reproduksi hewan bersel satu Amoeba. Ada saatnya anak berada dalam selnya. Dan saat reproduksi tiba, anak itu harus lepas dari sel induknya, oleh karena itu Amoeba membelah dirinya, dan saat itulah terbentuk sel anakan Amoeba. Setelah terpisah dari induknya, sel Amoeba baru benar-benar hidup sendiri, bahkan tidak mengenal induknya lagi.
Tapi, manusia bukan makhluk hidup bersel satu seperti Amoeba. Manusia adalah makhluk bersel banyak yang kompleksitasnya tidak sesederhana Amoeba. Manusia terikat dengan sesuatu yang bernama norma dan etika. Pada masa pertumbuhan anak ada peran orang tua. Saat si anak sudah bisa berdiri sendiri dia punya kewajiban memelihara orang tuanya di hari tua mereka. Dan siklus ini tidak akan terhenti, kecuali mereka sendiri yang menghentikannya.
Hubungan anak dan orang tua seperti diagram Venn. Ada semesta yang berupa lingkungan sekitar, ada himpunan irisan, gabungan dan komplemen. Sepintas memang sesederhana itu, tapi sesungguhnya konsekuensinya sangat lebih dari itu. Bagaimana Rasululullah SAW mengajarkan kepada para anak untuk selalu menghormati dan menyayanginya orang tuanya dengan mengajarkan doa untuk kedua orang tua dan bagaimana Allah menjanjikan pahala yang tidak akan terputus untuk investasi bernama anak-anak yang shalih kepada para orang tua. Inilah pekerjaan besar untuk para orang tua dan anak karena mereka terikat dalam suatu ikatan bernama keluarga. Keshalihan suatu keluarga tergantung pada keshalihan individunya. Produktivitas keluarga tergantung pada interaksi individunya. Saatnya meremajakan kembali hubungan orang tua dan anak dan segala pernak-perniknya. Hubungan ini bukan sekedar tentang pengabdian, bakti, menyenangkan hati ataupun balas jasa. Tapi ini adalah hubungan hati dan cinta, orang tua kepada anaknya, dan anak kepada orang tuanya.
“…. juara Harapan 1 … diraih oleh …. Laili ….” Saya tersenyum melihat Laili bersorak kegirangan. Senyum saya belum terhenti saat saya lihat ibunya Laili pun ikut tersenyum mendengar Laili mendapat juara. Meski bukan juara pertama, saya yakin ibunya Laili pun merasa lega. Lalu bagaimana dengan para orang tua dan anak lainnya ? Segera solidkan komunikasi dan warnai dengan warna-warna terang cinta.
Bakti kami, para anak untuk para orang tua
Jogjakarta, 16 Oktober 2007
Ditulis ulang 19 Februari 2008


