Feb
Mendewasakan Kesedihan
Written by Istrinya Aldo on February 20th, 2008
Kalau dikalkulasi, kesedihan yang kita alami mungkin sudah tiga digit atau bahkan lebih. Hingga saat ini kesedihan-kesedihan itu sudah banyak yang terlupakan, jadi tidak terlalu mengganggu. Sebagian hilang karena segera impas oleh kebahagiaan, sebagian lagi sengaja kita lupakan, yang lainnya hilang karena kapasitas otak kita begitu terbatas.
Kesedihan, sesuatu yang pasti akan dialami oleh semua makhluk. Sesuatu yang sudah diciptakan dan menjadi sunatullah alam. Sesuatu yang tidak terhindarkan tapi juga bukan tidak bisa terhapuskan. Sesuatu yang memiliki sifat dasar, tidak berkekalan.
Kesedihan, dengan berbagai skala, membuat orang yang menghadapinya melemah beberapa saat, tapi kemudian melipatgandakan kekuatan. Walaupun seringkali pula semakin melemahkan ketika menghampiri orang-orang yang tidak bijak menyikapinya.
Kesedihan, ibarat lahan tandus tanpa pepohonan. Saat air mata mengalir menganak sungai, hati menggelepar-gelepar penuh kebimbangan dan mudah sekali menciptakan kosakata penuh ratapan. Serasa dunia ini hancur menimpa dan mengubur tubuh kita hidup-hidup, membuat nafas kita sesak. Betapa sempitnya manakala kesedihan menyapa ramah kita.
Kesedihan, dengan segala jenisnya, mungkin sudah sangat dekat dengan kita. Sedekat kita dengan sahabat, sedekat bunyi detak jantung di telinga kita. Tapi ada satu hal yang harus selalu kita ingat. Bahwa Allah tiada henti sayangi kita dengan segala nama pemberianNya.
Sungguh, menahan kesedihan adalah seni mengantisipasi kesusahan yang paling berat diaplikasikan dalam kehidupan. Kita bisa belajar pada Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, tentang bagaimana menyambut mesra kesedihan. Saat putra yang dicintainya meninggal dunia sementara Abu Thalhah sedang tidak di rumah. Ketika suaminya pulang dan mencari anaknya, Ummu Sulaim tidak langsung memberitahu, meski saat itu hatinya hancur diliputi kesedihan. Bahkan dengan segala ketenangannya dia menjawab pertanyaan suaminya dengan berkata “Ia lebih tenang dari sebelumnya”. Lalu ia melayani suaminya yang baru datang itu. Kemudian baru Ummu Sulaim menyampaikan berita meninggalnya sang anak, itupun tanpa kata-kata melainkan dengan menunjukkannya langsung kepada Abu Thalhah. Dan betapa terkejutnya Abu Thalhah waktu itu, namun tak mampu berkata apa-apa.
Benar-benar sebuah antisipasi kesusahan yang begitu tulus, tanpa kepalsuan ataupun keinginan untuk mendapat pujian. Dan ini mampu menarik simpati Rasulullah SAW hingga beliau pun mendoakan mereka, “Ya Allah, berkatilah kedua orang ini”.
Dan inilah yang sering kita lupakan. Saat bersedih, kita sering merasa seluruh nikmat hilang begitu saja. Seakan-akan kita menjadi makhluk paling malang sedunia. Padahal sesungguhnya, saat kita bersedih saat itulah Allah berikan kita kenikmatan. Mungkin kita tidak akan pernah menghargai segala kebaikan yang Allah berikan jika kita tidak pernah merasakan sedih. Ada dua hal yang cukup untuk menghadapi kesedihan, tabah dan syukur. Dua hal inilah yang harus terus kita tambahkan persediaannya dan jangan pernah khawatir dengan biaya persediaan yang akan menggelembung karena untuk membuat persedian tabah dan syukur, kita tidak memerlukan biaya. Seperti itulah Ummu Sulaim mengkonfigurasi persediaan tabah dan syukurnya. Saat ujian dari Allah datang, ia segera mengeluarkan persediaan tabahnya, lalu ia mengubah ketabahannya menjadi rasa syukur. Ummu Sulaim bukan sekedar tabah menghadapi ujian tapi ia masih mampu bersyukur atas segala nikmat yang tersisa, tanpa peduli nikmat lainnya yang telah hilang.
Jadi, sesedih apapun, selagi kita mampu tersenyum maka kita akan tetap bahagia karena akan selalu ada hal terbaik bagi orang-orang yang mampu bersabar dan berlapang dada.
Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas (Az-Zumar : 10)
Jogjakarta, 20 Februari 2008


