Muslim Baby Advice

Muslim Baby Names and Baby Tips

WELCOME TO Muslim Family Blog

Assalamu'alaikum!, welcome to this little corner on my blog where i actually talk about Islam and Muslim family.

Find everything that Muslim Family should need here! We provide daily good content for you. just Enjoy, and be the Best Muslim.

Allahu Akbar! Allahu Akbar!

19
Feb

Miniatur Hidup

Pernah ke terminal, stasiun, bandara atau pelabuhan ? Pasti sudah pernah. Berapa lama Anda menghabiskan waktu di sana ? Satu jam ? Lima belas menit ? Tiga hari, hingga Anda menginap di sana ? Lalu Anda merasa bosan kan ? Saat menunggu bus yang tak juga datang, kereta api terlambat, ataupun flight delay adalah saat membosankan bagi sebagian besar orang. Ya, pada dasarnya hampir sebagian besar orang memang tidak menyukai pekerjaan berjudul “menunggu”. Entah sebentar, lama, dengan kepastian atau bahkan tanpa kepastian sama sekali.

Saat menunggu, situasi apakah yang Anda sukai ? Saat sedang ramai hingga Anda bisa memperhatikan banyak orang dengan banyak karakter lalu mengajak orang senasib mengobrol. Ataukah saat sedang sepi hingga Anda bisa membaca koran dengan santai ataupun melamun ?

Kita bisa sedikit menilai seseorang dari perilakunya saat menunggu di tempat-tempat tadi. Atau tidak usahlah menilai orang lain, diri sendiri dulu. Sudahkah kita menjadi seorang yang berlapang dada dengan harus menunggu ? Sudahkah kita jadi orang yang ramah pada seseorang di bangku sebelah ? Sudahkah kita bersikap baik dengan merelakan tempat duduk kita pada seseorang yang lebih membutuhkannya, misal seorang ibu yang sedang menggendong anak ? Adakah kita selalu berkomentar, meski dalam hati, pada setiap orang yang lewat di depan kita atau pada apa saja yang kita lihat ?

Pernahkah Anda sadari bahwa lalu lalang orang di terminal, stasiun, bandara ataupun pelabuhan beserta segala keramaian juga kesepiannya adalah gambaran lalu lalang hidup ?

Pernahkah terpikir bahwa segala kesedihan yang terjadi saat harus melepas orang-orang yang kita sayangi pergi ke kota lain, entah lama ataupun sebentar, sama juga dengan saat kita kehilangan mereka untuk selamanya ?

Di sudut terminal ataupun gerbong-gerbong rongsokan ada banyak orang tak berrumah dan berkeluarga, homeless and careless. Itulah wakil perjuangan hidup. Banyak pengemis, anak-anak jalanan, gelandangan, baik yang asli ataupun temporal. Perjuangan terus berjalan.

Lalu lalang orang yang keluar masuk adalah pergiliran orang yang kita kenal selama kita hidup. Kebosanan menunggu adalah saat kita jenuh dengan stagnansi hidup. Senyum dan tawa menyambut kedatangan adalah senyum dan tawa kita atas sebuah anugerah. Sapaan kita pada seseorang di bangku sebelah adalah sapaan kita pada tetangga sebelah rumah. Harap-harap cemas menunggu kereta datang adalah harap-harap cemas kita menunggu hasil usaha. Membayar tiket adalah pengorbanan yang kita lakukan untuk sebuah tujuan. Bila harus mengalami ketinggalan kereta, bus ataupun pesawat, adalah jenak-jenak kita gagal mendapatkan sesuatu meski mungkin bukan kegagalan sepenuhnya. Kelegaan saat kita sampai di tujuan adalah kemenangan saat hari akhir datang.

Keramaian di tempat-tempat tadi sama ramainya dengan kehidupan. Ada kecemasan, kebosanan, kesenangan, kesedihan, pengorbanan hingga perjuangan. Dan semuanya penuh arti. Kita pasti akan memilih untuk berada di tempat yang bersih, tenang dan nyaman. Hanya saja, kehidupan itu penuh dengan kosakata karena Allah menciptakannya dengan lengkap dan sempurna. Ada ketenangan, kebahagiaan, ketentraman. Ada juga kesedihan, kekacauan dan kegalauan. Dan semuanya sudah dialurkan dengan sangat tepat dan cermat, tanpa kesalahan.

Kemampuan memaknai hidup tidak harus ditentukan oleh banyaknya usia seseorang. Kemampuan memaknai hidup adalah keberhasilan seseorang menggunakan detik-detik hidupnya untuk kebaikan. Pemaknaan hidup terbaik adalah saat seseorang mengunakan sebagian besar waktunya untuk kebaikan, untuk investasi di kehidupan selanjutnya juga untuk hal-hal positif yang bermanfaat bagi orang lain. Seorang yang berhasil dalam kehidupannya adalah seorang yang menjadikan dunia dalam gengamannya, bukan di hatinya.

Inginkah kita menjadi orang yang tersenyum saat berada di hadapan sidang Allah yang Maha Mulia ? Segera maknai kehidupan kita dengan menciptakan kebaikan seluas tujuh samudra setiap waktu, kalau perlu lebih dari itu. Dan segera kurangi keburukan kita dengan terus menggulirkan roda kebaikan, dimanapun berada.

Karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap hal yang kita lakukan, baik ataupun buruk.

Untuk produktivitas hidup,

Jogjakarta, 19 Februari 2008

Filed under: Sudut Hati

Featured Post

Popular Post

Recent Comments

hanggadamai

tak save ah, kan buat masa depan.. :)

neng ika

assalamu'alaikum mbak? kalo lagi gak enak ati, resep buat tersenyum yang nomor 37 udah dicoba lum? siapa tau it works:)

anton ashardi

hmmm...hmmm...

landy

nice post